Skip navigation

Asmaul Husna

Perbedaan yang terjadi sesama muslim dalam melihat suatau amalan/ibadah, karena sudut pandang yang berbeda dalam memahami amalan/ibadah tersebut.

Ilmu Allah amat luas, memahami suatu dalil / rujukan adalah untuk diri sendiri, tujuan untuk memperkuat apa yang sudah dilakukan sudah ada dasarnya. Jika ada sesuatu hal yang berbeda dengan yang lain boleh mengingatkan, yang penting dengan niat : Mengingat tentang kebenaran, tetapi jangan ditinggal  mengingatkan tetang kesabaran. Semoga tidak nafsu yang diutamakan.
Contoh yang paling mudah yang bisa menimbulkan perdebatan yan panjang :
BUNGKUS ROKOK ITU CUMA SATU, ADA 4 ORANG YANG MELIHATNYA TETAPI ; ORANG KE-1
HANYA MELIHAT BAGIAN DEPAN, ORANG KE-2 HANYA MELIHAT BAGIAN BELAKANG, ORANG KE-3 HANYA MELIHAT BAGIAN SAMPING KIRI, DAN ORANG KE-4 HANYA MELIHAT BAGIAN SAMPING KANAN (DIMANA SETIAP BAGIAN ADA TULISAN DAN GAMBAR YANG PUNNYA ARTI MASING-MASING, TETAPI SEMUANYA MEMPUNYAI TUJUAN YANG SAMA, YAITU MENERANGKAN ROKOK TERSEBUT).

JIKA KE EMPAT ORANG TERSEBUT MEMBICARKAN/MENDISKUSIKAN TENTANG MAKSUD BUNGKUS ROKOK TERSEBUT TIMBUL BERDEBATAN YANG PANJANG YANG TIDAK ADA UJUNGNYA. KARENA KE EMPAT ORANG MERASA PALING MENGETAHUI TENTANG MAKSUD TULISAN ATAU GAMBAR BUNGKUS ROKOK TERSEBUT.

Lihat ibadah HAJI di KA’BAH, orang sholat dalam gaya/bentuk yang berbeda tidak ada yang ribut/menegur saling menyalahkan. Betapa Indah dan kuat umat Islam, melakukan sholat menghadap ke KIBLAT dan berpasrah diri dihadapan Allah Robbul Izati.

Isi Artikel :
Banyak orang (terutama dari kelompok salafi/ wahabi) yang keblinger. Mereka menyangka dzikir termasuk ibadah mahdah, dengan alasan bahwa itu ibadah kepada Allah (habluminallah).

Padahal definisi ibadah mahdah adalah ibadah khusus, ibadah yg diatur syariatnya secara ketat. Itu dapat meliputi dimensi habluminallah ataupun habluminannas. Demikian juga ibadah umum, dapat juga meliputi habluminallah dan habluminannas.

Dan dzikir adalah ibadah ghairu mahdah yg habluminallah, ada dalil perintahnya namun pelaksanaan diserahkan  ke umat.

Simak tanya jawab yg kami nukil berikut ini,
Tanya:
Assalamu’alaikum wrwb.
Saya ingin penjelasan tentang ibadah mahdah dan ibadah ghairu mahdah. Apa saja cakupannya? Beberapa artikel (internet) mengenai hal ini namun tanpa ada referensi, bahkan hanya pendapat penulis.

Saya ingin jika keterangan disertai dari referensi yang kuat (ulama aswaja atau rujukan kitabnya).

Terima kasih sharingnya.

Jawab:
Mungkin ini hanya referensi,
dalam ta’bir dibawah ini tersirat makna Ibadah Mahdlah,
سبل السلام ج: 4 ص: 110
وذهب أكثر الشافعية ونقل عن المالكية إلى أن النذر مكروه لثبوت النهي واحتجوا بأنه ليس طاعة محضة لأنه لم يقصد به خالص القربة وإنما قصد أن ينفع نفسه أو يدفع عنها ضررا بما التزم

sedangkan yang dibawah ini menjelaskan tentang bentuk2 ibadah mahdlah,
أنيس الفقهاء ج: 1 ص: 139

فالعبادات على ثلاثة أنواع بدنية محضة كالصلاة ومالية محضة كالزكاة ومركبة منهما كالحج

Demikian Wallahu a’lam bisshawab.

Ta’bir di atas Dari kitab Subulussalam karya Syeh Mohammad bin Isma’il As Son’ai (773-852 H. ) cetakan Daru Ihya’ Beirut.

Ibadah Mahdlah : sebentuk Perbuatan yang semata2 ditujukan untuk beribadah ( seperti sholat, zakat, puasa, haji, )

lebih jelasnya devinisi ibadah mahdlah itu merupakan jawaban dari sebuah contoh pertanyaan, ” untuk apa orang melaksanakan sholat, puasa, haji atau berzakat ? “

Ibadah ghoiru mahdlah : sebentuk perbuatan yang pada asalnya tidak ditujukan untuk beribadah tapi bisa bernilai ibadah bila dilakukan dengan niat dan tujuan beribadah, seperti makan, tidur, bekerja, kumpul bojo dll.

Ibadah mahdah adalah bentuk Ibadah yang tatacaranya diatur berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah sangat jelas, dan bersifat pasti/mutlak. seperti puasa, zakat, sholat haji dan lain2.

Sedangkan ibadah ghairu mahdah adalah bentuk ibadah yang dapat menjadi ibadah jika diniatkan sebagai ibadah, namun dapat menjadi kegiatan sosial biasa jika tidak disertai niat untuk ibadah, seperti bersedekat, bergotong royong dan membaca-baca buku. terima kasih.

artinya sedekah, tidak ditentukan ukurannya , hanya berdasar kemampuan masing-masing. dan lain-lain.

Tanya:

Di referensi manakah keterangan spt itu dapat kami baca?

Kemudian … bagaimana dengan ibadah2 yg sunnah, spt dzikir, shalawat, baca qur’an dll. Ini termasuk mahdah atau ghairu mahdah?

Jawab:

Silahkan baca di Tahrirut Tankih karya Zakariya al-Anshori atau fathul Mu’in karya al-malabari

ibadah-ibadah tersebut termasuk ibadah ghoiru mahdah, karena tiak ditentukan cara-cara, waktu-waktu dan jumlahnya secara khusus. orang dapat berdzikir kapan pun di manapun. demikian juga dengan membaca al-Qur’an. tentu saja terdapat beberapa pengecualian.

Adapun hadits-hadits yang menerangkan jumlah-jumlah dzikir Rasulullah dalam waktu-waktu tertentu biasanya berfungsi sebagai anjuran.

demikian terima kasih

Diedit dari sumber: http://forum.nu.or.id/viewtopic.php?f=4&t=530

………………………………………..

Berikut adalah salah satu contoh salah kaprah itu (berdzikir dianggap sebagai ibadah mahdah). Ku ambil dari diskusi/ komentar antara kami dengan seseorang yang menyebut dirinya abu sayev. Dari sebuah blog sahabat, http://pustakamawar.wordpress.com/2008/03/16/wahabi-vs-nu/

orgawam
Kamis, Desember 11, 2008 pukul 7:56 am

Tahlilan, yasinan dll dalam hal ini ada 2 (dua) dimensi, yakni majelis dzikir, dan tradisi (sebagai contoh, peringatan 3/7/40/dst hari adalah tradisi, kebiasaan masyarakat).

Dilihat dari sisi majelis dzikir maka tahlilan banyak dalilnya. Karena ini adalah majelis dzikir dengan kalimat tahlil sebagai dzikir utamanya.

Dilihat dari sisi tradisi .. ada yg menarik. Wahabi sendiri ternyata mengakui ada tradisi baik yg tak layak diharamkan. Ada arsip kami di sini,

http://orgawam.wordpress.com/2008/11/01/salafiwahabi-tentang-adat-tradisi

Ini bertentangan dengan prinsip mereka sendiri bahwa yg jika tak ada perintah berarti bid’ah sesat. Aneh kan..


abu sayev
Kamis, Desember 11, 2008 pukul 9:44 am

@ ORANG AWAM

TERNYATA ADA SATU LAGI CANTRIK KHURAFAT NONGOL ,UNTUK MEMBERIKAN SAJIAN KOCAK MENGOCOK PERUT (SORY…DISINI PARA WAHHABI TERKOCOK-KOCOK PERUTNYA KARENA MENAHAN TAWA)….TAPI BAIKLAH KITA BAHAS SAJA PEANDAPAT MEREKA

TAHLIL DAN YASIN ADALAH AMALAN IBADAH MAHDHAH…DIMANA KITA MEMBACA adalah dalam rangka melakukan hubungan vertikal (Habluminallah) sedangkan TRADISI yang dimaksud untuk tidak boleh diharamkan sebelum ada hujjah yang melarang…maka itu adalah tradisi keduniaan…atau tradisi dalam muamalah…(seperti berolah raga, bekerja, dan yang semisal) itulah hubungan horisontal ( habluminannas)

maka sangat kurang ajar kalau tahlil dan yasin adalah hanya dikatakan sebagai tradisi seperti yang dimaksud diatas…..maka kalau maksudnya tradisi adalah kebiasaan ibadah yang menyerupai ibadahnya orang kafir maka telah kami bahas SEBELUMNYA….

orgawam
Kamis, Desember 11, 2008 pukul 1:32 pm

@abu sayev

Ternyata anda tak dapat membedakan antara wadah dengan isi. Peringatan 3/7/dst adalah wadah, tahlil adalah isi.

Isi tidak tergantung pada hanya satu wadah. Ia bisa menjadi isi dalam wadah pertemuan (berkumpulnya orang2) apapun. Pertemuan RT, pengajian mingguan, dll.

Apa anda mem-vonis kegiatan2 itu jika di-isi yasin atau tahlil, maka berstatus SESAT juga? Wahh.. semakin konyol saja .. si ahli bid’ah ni.


abu sayev
Jumat, Desember 12, 2008 pukul 8:49 am

@orang awam
sampean mengatakan:
Ternyata anda tak dapat membedakan antara wadah dengan isi. Peringatan 3/7/dst adalah wadah, tahlil adalah isi.

Isi tidak tergantung pada hanya satu wadah. Ia bisa menjadi isi dalam wadah pertemuan (berkumpulnya orang2) apapun. Pertemuan RT, pengajian mingguan, dll.

Apa anda mem-vonis kegiatan2 itu jika di-isi yasin atau tahlil, maka berstatus SESAT juga? Wahh.. semakin konyol saja .. si ahli bid’ah ni.

abu sayev:

jikalau sampean memaksudkan yang seperti itu adalah wadah yang diisi dengan kegiatan tahlil dan yasin….sampean tentunya tahu bahwa membaca yasin dan tahlil adalah kegiatan ibadah…maka wadah yang sampean maksud tentunya mengandung arti syari’ah..karena wadah dalam ibadah mahdhah adalah syari’ah….maka wadah yang dipakai bisa dikatakan telah sesuai syari’ah tentunya harus dengan petunjuk dari yang membawa syari’ah tersebut….lalu mana dalil dari wadah yang sampean maksud….

perlu diinggat untuk membuat wadah guna melaksanakan yasin dan tahlil Rasulullah akan lebih mampu dari kita…sahabat-sahabat Rasulullah banyak baik dari kalangan muhajirin dan anshar…mereka lebih ikhlas-ikhlas dalam melaksanakan (tidak seperti kaum khurafat…kalau selepas tahlilan dan yasinan nggak dikasih teh anget dan pisang goreng alias garingan ghibah merajalela berita menyebar ke seluruh kampung bahkan sampai kampung sebelah)…maka jikalau hal tersebut dibenarkan tiada penggalang sedikitpun bagi Rasulullah untuk melaksanakannya dan memerintahkannya kepada para sahabat…..apa kamu merasa lebih baik dari sahabat atau bahkan kamu merasa lebih pandai dai Rasulullah.

bedakan dengan muamalah…yang sifatnya hubungan antas manusia…misalnya mengajar…belajar memerlukan wadah muamalah juga
yang hukumnya muasalnya seperti yang telah disebutkan terdahulu

orgawam
Selasa, Desember 16, 2008 pukul 10:15 pm

@abu sayev

Sebelumnya maaf telah menyebut anda sebagai ahli bid’ah. Siapa yg tak emosi ketika baru saja datang langsung dijuluki cantrik khurafat (pakai huruf besar pula).

Rupanya anda punya teori bahwa tahlil dan yasin (dzikrullah) adalah ibadah mahdah.

OK.. kita uji seberapa valid teori anda. Jika demikian (ibadah mahdah), anda pun mestinya dapat menyebutkan apa sajakah syariat untuk ibadah dzikir ini (yang meliputi syarat, rukun, yg membatalkan, dan/atau syariat yg berkenaan dgn waktu dan tempat)? Di referensi (kitab) mana yg menerangkan tentang syariat dzikir ini dapat kami rujuk?

membaca yasin dan tahlil adalah kegiatan ibadah…maka wadah yang sampean maksud tentunya mengandung arti syari’ah..karena wadah dalam ibadah mahdhah adalah syari’ah….maka wadah yang dipakai bisa dikatakan telah sesuai syari’ah tentunya harus dengan petunjuk dari yang membawa syari’ah tersebut….lalu mana dalil dari wadah yang sampean maksud….

Semoga ini memuaskan. Saya ambil satu contoh wadah sebgmana sebelumnya, yaitu pertemuan bulanan RT. Dalilnya .. membina hubungan baik dgn tetangga/ sesama ada dalilnya (anda pun pasti tahu dalil ttg hal tsb .. tapi tentu saja tak ada dalil khusus memerintahkan pertemuan RT).

Pertanyaan kami (yang belum anda jawab), apakah pertemuan semacam ini (RT) menjadi sesat hanya karena ada diisi tahlil? Anda belum menjawabnya!!! (1) ..😦

perlu diinggat untuk membuat wadah guna melaksanakan yasin dan tahlil Rasulullah akan lebih mampu dari kita… ………[HAPUS]…………..… jikalau hal tersebut dibenarkan tiada penggalang sedikitpun bagi Rasulullah untuk melaksanakannya dan memerintahkannya kepada para sahabat ….. apa kamu merasa lebih baik dari sahabat atau bahkan kamu merasa lebih pandai dai Rasulullah.

Tentu saja tidak. OK-lah … Tolong anda berikan contoh real wadah yg sesuai perintah Rasulullah saw tersebut, agar dapat kami amalkan sepenuhnya (untuk diisikan dgn dzikir, tahlil, yasin dll).

Maaf kl ada salah.
Wassalamu’alaikum wrwb.


Saya yakin, insya Allah niscaya bung abu sayev tak dapat menjawab pertanyaan2 di atas. Karena pada kenyataannya dzikir (termasuk tahlil, yasin, dll) adalah ibadah ghairu mahdah, tak ada syariat yg mengaturnya secara ketat. Semua-nya boleh dilakukan sampai dijumpai ada hal-hal yang menyebabkan larangannya.

Maka .. klaim bid’ah sesat terhadap amalan-amalan semacam itu (yasinan, tahlilan, dll) menjadi gugur dengan sendirinya.

Wallahu a’lam.

Diedit dari sumber :

—–0O0—–

Baca artikel lainnya :

9 Comments

    • abuthoriq
    • Posted Januari 21, 2009 at Rabu, Januari 21, 2009
    • Permalink

    Subhanallah. Mudah-mudahan penjelasan yang enak dibaca dan dengan gaya bahasa yang santun ini memberi pencerahan. Jazakumullah ahsanu jaza’

    Mbah Jogo :
    alhamdulillah……..
    Segala puji hanya milik Allah, yang semua makhluk di alam semesta senantiasa memuji-NYA.

    Maturnuwun atas silaturahmi ke blog kami, semoga menjadikan persaudaraan dan menjadikan ukhuwah islamiyah yang kuat.

    salam dari,
    Hamba Allah yang sering salah dan lupa

    • abuthoriq
    • Posted Januari 21, 2009 at Rabu, Januari 21, 2009
    • Permalink

    Saling link kang

    Mbah Jogo :
    Blognya Pak Ustadz juga aku postingkan (link) di ” SAHABAT MUSLIM ”
    (Bagian bawah blog ini sebelah kiri).

    Semoga menjadi persaudaraan yang saling memberi manfaat.

    • ABU SAYEV
    • Posted Mei 23, 2009 at Sabtu, Mei 23, 2009
    • Permalink

    #
    abusayev berkata
    Maret 7, 2009 pada 4:35 am

    ABU SAYEV:

    JUSTRU YANG HARUS KAMI TANYAKAN DARI MANA SAMPEAN MEMBANGUN WADAH TERSEBUT SEDANG DALAM TUNTUNAN MEMBUAT WADAH ITU TIDAK ADA SAMA SEKALI DARI RASULULLAH……
    DZIKIR YANG DITUNTUNKAN OLEH RASULULLAH SANGAT JELAS MISAL DZIKIR SEHABIS SHOLAT……ORANG ORANG KEBANYAKAN MALAH BIASA CEPAT-CEPAT LARI DARI MASJID SEUSAI SALAM GARA-GARA HABIS SHALAT ADA UNDANGAN BACA DZIKIR BID’AH BERJAMA’AH DI RUMAH TETANGGA

    MEMBACA AL FATIHAH SEHALNYA MEMBACA AL QUR’AN ADALAH IBADAH BUKAN MAHDHAH….TAPI MEMBACA AL FATIHAH ALA YUSMAN ROY DALAM IBADAH SHALAT AKAN DIBOLEHKAN SAMPAI KITA MENDATANGKAN LARANGAN DARI RASULULLAH TENTANG TIDAK BOLEHNYA MEMBACA AL FATIHAH DENGAN DUA BAHASA….APA ITU YANG SAMPEAN MAKSUD DALAM IBADAH SEMUA BOLEH DILAKUKAN SAMPAI ADA DALIL LARANGAN….JUSTRU BERIBADAH TANPA DALIL ADALAH TERLARANG MAS NAH DISITU LETAK LARANGANNYA……
    CONTOH LAGI BERKUMPUL-KUMPUL ORANG DENGAN DIKEBUN BELAKANG DENGAN NIATAN BARENG-BARENG MEMBACA QUR’AN SAMBIL TERIAK-TERIAK HISTERIS KAYAK ORANG GILA APAKAH ITU MENURUT SAMPEAN TIDAK DILARANG

    maaf……INI kami tambahkan dengan mengutip dari blognya bang mawardi, mungkin itu bisa jadi tambahan penjelasan buat sampean

    =====================================
    ==========================
    ================
    ABU IZZAT:

    abu saef hizbulmutasallifiin
    Ketika Alqur an melarang/mengharamkan bagi seorang anak berkata “Uff” kepada orang tuanya , kemudian Ulama ijtihad dan menghasilkan bahwa “memukul orang tua” juga haram (tdk ada perintah/larangan qoth’i) apakah hasil ijtihad mereka itu juga khurufat? atau barangkali menurut kaca mata anda boleh saja anak memukul orang tuanya karna tidak diperintah untuk tidak memukul?? para ulama menyebut seperti itu qiyas awlawi, dan alqiyas huwal ijtihad. Ketika Alqur an melarang memakan harta anak yatim, barangkali anda abu saef mau mempersilaahkan anggota hizbulmu untuk membakar harta anak yatim? yang penting tidak makan, (menurut orang Islam seperti itu dinamakan qiyas musaawi)
    Ketika alqur an memerintah berdzikir kemudian ulama berijtihad dan menemukan tatacara tertentu sebut saja Tahlilan atau apa saja/ ketika alqur an tidak melarang beberapa tatacara yang dilakukan orang Islam dalam berdzikir, apakah semua itu juga khurofat?
    – Mengenai Taqlid/mbahnya Taqlid, saya yakin pada masa sekrang (era kemunculan mutasallifiin) sedikit sekali orang yang tidak TAQLID,kalau tidak dibilang tidak ada, kalau umat Islam pada umumnya Talid pada para ulama lalu kalau mutasallifiin TAQLID pada siapa? apakah langsung …? tapi langsung kemana?
    – Mashodir al ahkaam menurut umat Islam adalah Alqur an,Hadits,ijmaa,Qiyas, bahkan banyak ulama yang menambahkan sampe 10, seperti istihsaan, maslahah mursalah dst. kemudian kalau menurut hizbul mutasallifiin yang mana yang bisa dijadikan Mashodiril ahkam? apakah cukup Fathul majid saja ?
    – mudah-mudahan mereka bisa faham atau minimal berusaha untuk faham.

    ABU SAYEV:

    IJTIHAD YANG HAQ TIDAK BISA DIGUNAKAN UNTUK HUJJAH SESUATU YANG BATHIL DENGAN MENGATASNAMAKAN IJTIHAD….

    ARGUMEN YANG SAMPEAN BAWAKAN MENGUNDANG TAWA BANYAK ORANG…..

    MENGENAI LARANGAN….mengatakan Uff saja dilarang oleh Qur’an……apalagi memukul, jadi jelas sebuah yang lebih ringan saja dilarang, apalagi sesuatu yang lebih berat dari itu…DAN SEBAGAIMANA CONTOH SAMPEAN YANG KE DUA

    SAMA SEPERTI KETIKA POLISI MELARANG MENGENDARAI MOBIL SAMBIL BERCANDA RIA…TENTUNYA MENGENDARAI MOBIL SAMBIL TIDUR LEBIH DILARANG.

    COBA…KALAU ANALOGI SAMPEAN DIGABUNGKAN…AKAN SANGAT LUCU (KELAKAR ALA NU…HA…HA…HA…HA)

    MENGENAI PERINTAH ATAU TUNTUNAN BERDZIKIR…KEMUDIAN BANYAK ORANG BERLOMBA-LOMBA BEMBANGUN PERINTAH-PERINTAH SENDIRI TENTANG ATURAN BERDZIKIR YANG MENYEJAJARKAN DENGAN SYARI’AT TANPA ADANYA PERINTAH MAUPUN TUNTUNAN DARI SANG PEMBUAT TUNTUNAN ITU. APA ITU YANG NAMANYA IJTIHAD

    SAMA SEPERTI…..YANG KAMI TANYAKAN KETIKA SAMPEAN DIPERINTAH UNTUK MEMILIKI SIM PADA SAAT MENGENDARAI MOBIL…SAMPEAN MENCARI SIM KEPADA PAK POLISI ATAU KEPADA PAK KIAI…KIRA-KIRA DENGAN SIM WETON PONDOK, DENGAN TANDA TANGAN PAK KIAI, DAN CAP STEMPEL PONDOK AKAN BISA SAMPEAN GUNAKAN UNTUK MENGENDARAI MOBIL….COBA ANDAI SIM BUATAN KIAI SAMPEAN UNTUK JALAN KEBETULAN KENA OPERASI…JIKALAU PAK POLISI MERESTUI, BERARTI SAMPEAN TERMASUK MAKHLUK HEBAT.

    DAN KAMI TETAP BERFIKIR BAHWA SAMPEAN SAK BRAYAT MASIH NORMAL….MENCARI SIM SESUAI ATURAN YANG BERLAKU YAITU MENURUT ATURAN PAK POLISI…LALU KENAPA DENGAN ATURAN ALLAH DAN RASULNYA KOK MALAH MBALELO…PAKAI MENGATASNAMAKAN IJTIHAD LAGI

    orang awam:
    –> Terus terang saya tak paham apa yg anda bicarakan.

    OK .. mengenai ini,

    ++++++++++++++++++++++++++
    …… ORANG BERLOMBA-LOMBA BEMBANGUN PERINTAH-PERINTAH SENDIRI TENTANG ATURAN BERDZIKIR YANG MENYEJAJARKAN DENGAN SYARI’AT ………
    ++++++++++++++++++++++++++

    Setahu saya, dan insya Allah benar, tak ada aturan dzikir yang disejajarkan dengan syariat. Itu angan-angan anda saja. Tak ada aturan .. syarat rukun .. dzikir ini itu, yang kalau tdk sesuai kemudian batal dzikirnya, dll.

    Urutan-urutan ucapan dzikir (jika ini yg anda maksud sebg aturan) itu hanya ditujukan untuk menambah kekompakan dan konsentrasi. Dan itu semua tak menyelisihi syariat.

    ABU SAYEV:

    Setahu saya, dan insya Allah benar, orang yang mengatakan bahwa tak ada aturan dzikir yang disejajarkan dengan syariat adalah orang yang ngawur alias nyleneh…lalu dzikir yang dilakukan oleh Rasulullah dan diikuti para sahabatnya itu apakah bukan sebuah Syariat ???? sedang orang-orang nyleneh malah berani mengatakan bahwa hal itu di sejajarkan dengan syariat saja tidak.

    mengenai aturan baru dan urutan-urutan ucapan dzikir itu hanya ditujukan untuk menambah kekompakan dan konsentrasi. Dan itu semua tak menyelisihi syariat. coba kita lihat kepada ucapan kalian dan apa yang terjadi pada jaman Rasulullah….menambah kekompakan dan konsentrasi yang kalian maksud tentunya itu adalah bagian dari keutamaan yang ingin kalian capai dalam melaksanakan aturan itu….

    lalu mengenai kekompakan yang kalian impikan itu…..apakah kalian merasa Dzikir jaman Rasulullah dan para sahabatnya perlu dikritisi karena beliau beliau tidak /kurang kompak menurut pandangan kalian…sehingga dengan susah payah menggubah dan memformulasikan dalam sebuah kemasan yang menurut kalian lebih bagus laksana barisan serdadu yang berjalan dan berteriak kompak mengikuti aba aba komandannya.

    mengenai konsentrasi….cara yang dilakukan Rasulullah adalah satu satunya cara yang benar dalam memperoleh konsentrasi dalam ibadah

    MENGENAI DZIKIR GAYA BARU YANG KALIAN KLAIM TIDAK MEMILIKI RUKUN YANG MEMBATALKAN KALIAN HANYA MENGANDAI-ANDAI DARI KENYATAAN…..COBA SAJA DALAM SEBUAH JAMAAH BID’AH YANG KALIAN LAKUKAN SEUMPAMA ADA SERORANG SAJA MEMBACA BERBEDA DENGAN BACAAN YANG DIKOMANDOI DAN SEKIRANNYA ITU MENJADIKAN TIDAK KOMPAK DAN KONSENTRASI MENURUT KALIAN…ITU ADALAH BAGIAN TERKECIL DALAM PEMBATALAN KEUTAMAAN TERHADAP APA YANG KALIAN LAKUKAN….

    KALIAN BOLEH COBA ANDAIKATA JAMAAH BID’AH MEMBACA AAAAAAAAAA, LALU SATU SAJA DIANTARA KALIAN MEMBACA MANTAP BBBBBBBBBBBB TENTU SEMUA MATA AKAN MEMELOTOTINYA DAN JIKALAU HAL ITU DITERUSKAN MAKA TAK KHAYAL SALAH SATU KALIAN YANG MENGUCAP BERBEDA ITU AKAN DITENDANG DARI JAMAAAH LANTARAN TIDAK TERTIP ATURAN….SELAMAT MENCOBA
    Balas

    Mbah Jogo :
    Alhamdulillah ditempat saya (Masjid Al Muhajirin- Kepuh Permai – Waru, Sidoarjo), jama’ahnya :
    1. Sehabis sholat fardhu tetap berdizikir (tidak cepat-cepat lari sehabis sholat) walaupun ada undangan Tahlil di rumah tetangga.
    2. Jama’ah kami tidak ada yang sholatnya membaca Al Fatihah dua bahasa (” ALA YUSMAN ROY “)
    3. Di Masjid kami, sebulan sekali diadakan membaca Al-Qur’an 30 Juz, tidak dengan “BERKUMPUL-KUMPUL ORANG DENGAN DIKEBUN BELAKANG DENGAN NIATAN BARENG-BARENG MEMBACA QUR’AN SAMBIL TERIAK-TERIAK HISTERIS KAYAK ORANG GILA”

    Maturnuwun or terima kasih atas informasinya
    Semoga Allah mengampuni segala kekurangan dan kesalahan kita, dan semoga senantiasa memberikan bimbingan jalan yang lurus…. amin.

    Salam,

    • ABU SAYEV
    • Posted Mei 30, 2009 at Sabtu, Mei 30, 2009
    • Permalink

    1. Sehabis sholat fardhu tetap berdizikir (tidak cepat-cepat lari sehabis sholat) walaupun ada undangan Tahlil di rumah tetangga.

    abu sayev:
    maaf kalau itu membuat sampean menjadi gundah tetapi paling tidak ada makhluk yang mengakuinya melakukan seperti tersebut dengan alasan memenuhi undangan bid’ah lebih wajib dari melaksanakan sunnah Rasul
    =============
    ===============
    2. Jama’ah kami tidak ada yang sholatnya membaca Al Fatihah dua bahasa (” ALA YUSMAN ROY “)

    abu sayev:
    konteks kami adalah menanyakan apakah hal yang demikian dibenarkan hanya lantaran tidak ada larangan dari Allah dan RasulNya

    3. Di Masjid kami, sebulan sekali diadakan membaca Al-Qur’an 30 Juz, tidak dengan “BERKUMPUL-KUMPUL ORANG DENGAN DIKEBUN BELAKANG DENGAN NIATAN BARENG-BARENG MEMBACA QUR’AN SAMBIL TERIAK-TERIAK HISTERIS KAYAK ORANG GILA”

    abu sayev:
    sepertinya sampean perlu membaca sekali lagi bahkan kalau perlu berulang ulang konteks dari yang tertulis diatas agar faham dengan yang saya maksud…….kalau dibaca separo separo…nanti menimbulkan jawaban yang aneh alias mleset

    Mbah Jogo :
    Terima kasih atas responnya
    Dan saya menghargai pendapat anda.

    Kuingatkan diri ini yang sering khilaf dan salah, agar senantiasa selalu :

    * untuk mengajak ………….. bukan untuk mengasak…..
    * untuk merangkul ………….. bukan untuk memukul……
    * untuk nasehat …………….. bukan untukmenghujat……
    * dengan kalimat intelek …. bukan dengan kalimat mengejek
    https://mbahjogo.wordpress.com/2009/02/14/komentar-dengan-iman-atau-nafsu/

    Semoga Allah memberikan Bimbingan dan ampunan-Nya.

    • pujoko
    • Posted Juni 5, 2009 at Jumat, Juni 5, 2009
    • Permalink

    Mbah Jogo :
    Terima kasih atas responnya
    Dan saya menghargai pendapat anda.

    Kuingatkan diri ini yang sering khilaf dan salah, agar senantiasa selalu :

    * untuk mengajak ………….. bukan untuk mengasak…..
    * untuk merangkul ………….. bukan untuk memukul……
    * untuk nasehat …………….. bukan untukmenghujat……
    * dengan kalimat intelek …. bukan dengan kalimat mengejek

    abu sayev:

    kami sangat setuju bahkan sangat setuju sekali atas pernyataan di atas dan mungkin apa yang terucap dari saya bahkan pasti ada malah banyak yang tidak sesuai dengan selera lawan ideologi….sebenarnya kami juga berusaha untuk lebih bisa berbicara lunak…namun terkadang memang untuk sebuah pembelaan yang teryakini sebagai yang haq harus dengan ketegasan sikap yang mungkin dinilai sebagai sesuatu yang kasar…..kami hanya membeli apa yang dijual….ketika kami mendapatkan cemoohan dengan kata-kata yang tidak senonoh”””mereka mengatakan sekte WAHABI dengan niat untuk menghina”””mereka menghina ulama-ulama yang berjalan dijalan yang haq dengan kata-kata rendahan bisa dilihat di situs-situs sebagai bukti kerendahan akhlak mereka.

    sebanarnya jikalau semua diantara mereka seperti antum…maka maka mungkin apa yang antum dambakan akan terwujud

    afwan segala kesalahan saya
    mungkin ini adalah awal kita untuk saling mencintai karena Allah…meskipun nasehat-menasehati dalam urusan yang haq dan kesabaran…..saya biasa shalat dibelakang saudara-saudara saya dari NU walau saya tidak sepaham dengan mereka dalam beberapa masalah yang mungkin itu sangat krusial. saya biasa ikut..ronda dan bergotong royong dikampung bersama mereka meskipun tidak pernah muncul dalam acara tahlilan maupun mujahadahan…meski begitu kami tetap dianggap orang-orang yang mengasingkan diri…bahkan ada yang berpandangan lebih dari itu….kata-kata yang tidak enak untuk kami….saudari kami dan tentunya saudari mereka juga sering dikatakan ninja wajah berkumis….dan panggilan congkrang sudah sangat melekat pada kami…..itulah ilustrasi singkat yang perlu antum ketahui atau mungkin antum telah tahu hal itu

    • ABU SAYEV
    • Posted Juni 5, 2009 at Jumat, Juni 5, 2009
    • Permalink

    Mbah Jogo :
    Terima kasih atas responnya
    Dan saya menghargai pendapat anda.

    Kuingatkan diri ini yang sering khilaf dan salah, agar senantiasa selalu :

    * untuk mengajak ………….. bukan untuk mengasak…..
    * untuk merangkul ………….. bukan untuk memukul……
    * untuk nasehat …………….. bukan untukmenghujat……
    * dengan kalimat intelek …. bukan dengan kalimat mengejek

    abu sayev:

    kami sangat setuju bahkan sangat setuju sekali atas pernyataan di atas dan mungkin apa yang terucap dari saya bahkan pasti ada malah banyak yang tidak sesuai dengan selera lawan ideologi….sebenarnya kami juga berusaha untuk lebih bisa berbicara lunak…namun terkadang memang untuk sebuah pembelaan yang teryakini sebagai yang haq harus dengan ketegasan sikap yang mungkin dinilai sebagai sesuatu yang kasar…..kami hanya membeli apa yang dijual….ketika kami mendapatkan cemoohan dengan kata-kata yang tidak senonoh”””mereka mengatakan sekte WAHABI dengan niat untuk menghina”””mereka menghina ulama-ulama yang berjalan dijalan yang haq dengan kata-kata rendahan bisa dilihat di situs-situs sebagai bukti kerendahan akhlak mereka.

    sebanarnya jikalau semua diantara mereka seperti antum…maka maka mungkin apa yang antum dambakan akan terwujud

    afwan segala kesalahan saya
    mungkin ini adalah awal kita untuk saling mencintai karena Allah…meskipun nasehat-menasehati dalam urusan yang haq dan kesabaran…..saya biasa shalat dibelakang saudara-saudara saya dari NU walau saya tidak sepaham dengan mereka dalam beberapa masalah yang mungkin itu sangat krusial. saya biasa ikut..ronda dan bergotong royong dikampung bersama mereka meskipun tidak pernah muncul dalam acara tahlilan maupun mujahadahan…meski begitu kami tetap dianggap orang-orang yang mengasingkan diri…bahkan ada yang berpandangan lebih dari itu….kata-kata yang tidak enak untuk kami….saudari kami dan tentunya saudari mereka juga sering dikatakan ninja wajah berkumis….dan panggilan congkrang sudah sangat melekat pada kami…..itulah ilustrasi singkat yang perlu antum ketahui atau mungkin antum telah tahu hal itu

    Mbah Jogo :
    Saya sangat sependapat dengan Kang Abu Sayev

    Begitu lah…. artikel ini aku postingkan, karena sangat prihatin dengan sesaudara muslim…. (“mengunjungi blogger yang membahas tentang khilafiyah”), yang awal dan niatnya “mengajak tentang kebenaran” tidak jarang tergelincir dengan selalu memandang rendah orang lain. Padahal diri ini belum tentu lebih mulia / suci dari orang lain.
    Mudah 2 an kita juga bisa melakukan untuk “mengajak tentang kesabaran” dan mengaplikasikan.

    Salam Ukhuwah Islamiyah.

    • ABU SAYEV
    • Posted Juni 5, 2009 at Jumat, Juni 5, 2009
    • Permalink

    yang awal dan niatnya “mengajak tentang kebenaran” tidak jarang tergelincir dengan selalu memandang rendah orang lain. Padahal diri ini belum tentu lebih mulia / suci dari orang lain.

    ABU SAYEV:
    sangat benar saudaraku….bahwa kita belum tentu lebih mulia dan suci dan ahli ibadah dari orang lain…..dan kita pasti tidak lebih mulia dan suci dan ahli ibadah dari panutan kita Rasulullah….apa yang diatur oleh Nabi kita tercinta tentunnya adalah sesuatu yang telah sempurna dan tidak perlu dipugar dengan adanya penambahan maupun pengurangan…melaksanakan semua apa yang telah dilaksanakan oleh kekasih kita Muhammad ibn Abdullah adalah sesuatu hal yang kita mustahil kita lakukan…jadi tidak pantas kita merasa sok mampu melaksanakan ibadah yang Nabi tidak pernah mensyariatkan…….KITA ORANG ISLAM TENTUNYA SEPAKAT BAHWA HANYA ORANG DUNGU BAHKAN KAFIR YANG MERASA LEBIH MULIA, LEBIH SUCI DAN LEBIH ABID DARI RASULULLAH.

    AKU MENCINTAIMU SAUDARAKU SEIMAN KARENA ALLAH

    • Cakra
    • Posted Agustus 24, 2009 at Senin, Agustus 24, 2009
    • Permalink

    Jadi dapat ilmu nih

    • anugrah
    • Posted Januari 31, 2010 at Minggu, Januari 31, 2010
    • Permalink

    Zikir muqoyyad itu ibadah mahdah tapi tidak ketat. Ikut aja apa yang diriwayatkan sahabat, sami’naa wa atho’naa.

    Misal:
    – Bacaan seusai mendengar adzan jangan dibaca seusai bangun tidur.

    – Bacaan masuk pasar jangan dibaca saat masuk masjid.

    3. Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah,
    Allahumma antas-salam, wa minkas-salam, tabaraakta ya dzaljalali wal ikraam
    (Shahih Tirmidzi, Shahih Sunan Ibnu Majah)
    jangan dibaca seusai buang air.

    Ada juga zikir wajib berjama’ah di masjid bagi laki-laki, yakni:

    wa aqimish sholata lidzikrii.
    dan dirikan sholat untuk zikir (kepada Allah) [ThaaHaa 14]

    Sebaik-baik sholat seseorang (laki-laki) adalah di rumah, kecuali sholat wajib.

    Lihat juga An-Nuur 36-37, zikir pagi dan petang, jangan dibaca setelah sholat dzuhur dan isya.
    Juga jangan sampai terjadi sholat shubuhnya di rumah kemudian zikir paginya di masjid.

    Jika zikir (berdoa, bersholawat) di masjid,
    walau ada contoh bahwa nabi pernah mengeraskan bacaannya,
    maka kita jangan coba-coba mengeraskannya
    yakni saat ruku’, i’tidal, sujud, duduk antara dua sujud, tasyahud.

    Semoga membantu untuk direnungkan.

    Semua ulama sepakat adab berdoa (meminta kepada Allah) adalah:
    – Memuji Allah
    – Hanya kepada Allah meminta (QS Al-Fatihah 5)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: