Skip navigation

Salah satu Kegiatan Majelis Dzikir Al Muhajirin – Kepuh Permai Sidaorjao.
Hari besar Islam “Maulid Nabi Muhammad S.A.W” disi dengan menyenangkan
warga sekitarnya sekaligus mengajak untuk mengingat tentang kebesaran Allah.

Memang tentang Muludan (Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W), banyak terjadi perbedaan dalam mensikapinya, apalagi jika disikapi dengan nafsu (tanpa berfikir bijak dan iman) akan semakin tidak ada ujungnya. Jika mengadakan “PERINGATANA MAULID NABI” semakin kuat pendekatan diri manusia kepada Allah dan semakin cintanya kepada Rosulullah, serta menambah syiar Islam menjadi cemerlang. Semoga yang melakukan “PERINGATAN MAULID” mendapat ridho Allah dan Safa’at Rosulullah.

Semoga senantiasa kita semua umat islam menjadi umat Muhammad yang santun dan mendapat ampunan dari Allah yang Maha Luas ilmu dan ampunanNya.

Al Qur’an 33. Al Ahzab – ayat 21

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”

Semoga Ukhuwah Islamiyah tegak dengan kuat ditengah-tengah perbedaan sikap.

Wallahu ‘alam.

Isi artikel :

Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam.

I. Sultan Salahuddin Al Ayyubi.
Pada tahun 1099 M yang dikenal denga istilah The Crusade atau Perang Salib, Pada saat itu semanggat juang tentara Islam menurun karena Ukhuwah Islamiyah melemah (terpecah belah) dalam banyak kerajaan dan kesultanan, sehingga tentara Salib Eropa (Perancis, Jerman dan Inggris) berhasil menguasai Yerusalem dan merubah Masjidil Aqsa menjadi Gereja. Walaupun pada saat itu ada satu Khalifah dari Dinasti Bani Abbas, tetapi kesatuan yang terjadi hanya sebagai simbolis semata (secara spiritual).

Pada waktu pemerintahan Khalifah Bani Ayyub, tahun 1174–1193 H atau 570-590 M, ada Kesultanan (setingkat Gubernur) yang diperintah oleh  Sultan Salahuddin Al Ayyubi (orang eropa menyebutnya Saladin), Pusat Kesultanannya dikota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.

Sultan Salahuddin Al Ayyubi sangat prihatin dengan kondisi Umat Islam yang terpecah belah yang membuat Ukhuwah Islamiyah semakin melemah akibatnya semanggat juang (kekuatan) merosot dengan tajam.
Dengan hidayah Allah Sultan Salahuddin Al Ayyubi berfikir dan berkeinginan untuk menegakkan kembali Ukhuwa Islamiyah agar semangat juang Umat Islam hidup kembali dengan meningkatkan dan mempertebal kecintaan kepada Rosulullah S.A.W. melalui peringatan Maulud Nabi.

Pada waktu itu Salahuddin ditentang oleh sebagian Ulama’. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Sultan Salahuddin Al Ayyubi meminta persetujuan kepada Khalifah An-Nashir Bani Ayyub di Bagdad, dan Khalifah mensetujuinya. Kemudian pada musim Ibadah Haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menysosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin Al Ayyubi pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh Ulama’ dan Sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi.

Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syekh Ja’far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd Al-Jawahir (artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin Al Ayyubi itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Sultan Salahuddin Al Ayyubi dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini.

II. Wali Songo.
Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, Para Wali Songo perayaan Maulid Nabi atau Muludan dimanfaatkan untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat) sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan Maulid Nabi disebut Perayaan Syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan Sekaten.
Dua kalimat syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga bernama Gamelan Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid Demak pada waktu perayaan Maulid Nabi. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat terlebih dulu memasuki pintu gerbang “pengampunan” yang disebut gapura (dari bahasa Arab ghafura, artinya Dia mengampuni).

III. Kesultanan Mataram.
Pada zaman kesultanan Mataram, untuk menarik perhatian rakyat  para sultan menggunakan sarana perayaan Maulid Nabi untuk menyiarkan Agama Islam tanpa paksaan. Perayaan itu oleh rakyat  disebut dengan istilah Gerebeg Mulud. Kata “gerebeg” artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di samping Gerebeg Mulud, ada juga perayaan Gerebeg Poso (menyambut Idul Fitri) dan Gerebeg Besar (menyambut Idul Adha).

IV. Ulama’ NU.
Karena begitu besar manfaatnya dalam syiar Agama Islam serta untuk lebih dalam mengetahui pribadi Rosulullah yang begitu penuh dengan suri tauladan yang baik, maka para Ulama’ NU melestarikan Peringatan Maulud Nabi sebagai sarana untuk lebih meningkatkan mencintai Rosulullah agar semangat Umat Islam untuk menjalan Syariat Agama menjadi lebih baik dalam hal Hamblumminallah dan Hamblumminannas.

Kini peringatan Maulid Nabi sangat lekat dengan kehidupan warga Nahdlatul Ulama (NU). Hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal (Mulud), sudah dihapal luar kepala oleh anak-anak NU. Acara yang disuguhkan dalam peringatan hari kelahiran Nabi ini amat variatif, dan kadang diselenggarakan sampai hari-hari bulan berikutnya, bulan Rabius Tsany (Bakdo Mulud). Ada yang hanya mengirimkan masakan-masakan spesial untuk dikirimkan ke beberapa tetangga kanan dan kiri, ada yang menyelenggarakan upacara sederhana di rumah masing-masing, ada yang agak besar seperti yang diselenggarakan di mushala dan masjid-masjid, bahkan ada juga yang menyelenggarakan secara besar-besaran, dihadiri puluhan ribu umat Islam.

Ada yang hanya membaca Barzanji atau Diba’ (kitab sejenis Barzanji). Bisa juga ditambah dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti penampilan kesenian hadhrah, pengumuman hasil berbagai lomba, dan lain-lain, dan puncaknya ialah mau’izhah hasanah dari para muballigh kondang.
Para ulama NU memandang peringatan Maulid Nabi ini sebagai bid’ah atau perbuatan yang di zaman Nabi tidak ada, namun termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) yang diperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan seorang muslim yang pada zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antara lain: berzanjen, diba’an, yasinan, tahlilan (bacaan Tahlilnya, misalnya, tidak bid’ah sebab Rasulullah sendiri sering membacanya), mau’izhah hasanah pada acara temanten dan Muludan.

Dalam Madarirushu’ud Syarhul Barzanji dikisahkan, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa menghormati hari lahirku, tentu aku berikan syafa’at kepadanya di Hari Kiamat.”
Sahabat Umar bin Khattab secara bersemangat mengatakan: “Siapa yang menghormati hari lahir Rasulullah sama artinya dengan menghidupkan Islam!”

Diedit dari sumber : http://www.nu.or.id

—–0O0—–

2 Comments

    • rosikhin
    • Posted Februari 7, 2009 at Sabtu, Februari 7, 2009
    • Permalink

    mohon ditayangkan beberapa acara maulid yang ada agar kami dapat menontonnya yaaaaaaaaaah……….. kang…………

    Mbah Jogo :
    Sebenarnya ada beberapa movie yang berhubungan dengan artikel ingin ditampilkan, karena keterbatasan (blog ini maupun memiliknya) untuk saat ini belum bisa.
    Insya Allah…..jika diketemukan cara yang mudah dan cepat akan ditampilkan.

    Atas silaturrahminya……maturnuwun.

    • M15Q
    • Posted Februari 13, 2009 at Jumat, Februari 13, 2009
    • Permalink

    Salam buat Mbah Jogo…

    Mbah Jogo :
    salam kembali, semoga sukses selalu…..🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: