Skip navigation

Renungan :

Warga Grajagan, Banyuwangi, memenuhi permintaan nenek ‘sakti’ Supiah untuk melakukan selamatan bubur grendul,Kamis (14/5). Bubur grendul dilarung tepat pada penanggalan jawa Jumat Pon.

QS 15. Al Hijr – ayat 39 s/d 40 :

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

  • 39. Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

  • 40. kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.

—– 0O0 —–

Kamis, 14/05/2009 18:01 WIB

1. Warga Larung Bubur Grendul Sesuai Pesan Supiah

Irul Hamdani – detikSurabaya

Banyuwangi – Akhirnya warga Grajagan, Banyuwangi memenuhi permintaan dari Supiah (65), untuk melakukan selamatan jenang/bubur grendul, Kamis (14/5/2009) sore. Selamatan ini dilakukan dengan cara melaruang ke laut setempat, tepat bersamaan hari Jumat Pon, atau datangnya musibah Tsunami 15 tahun silam.

Awalnya, ritual larung itu akan dilakukan Jumat (15/5/2009) besok. Namun setelah dicermati, ternyata hari Jumat pon, hari yang diminta Supiah sebagai hari pelaksanaannya, jatuh pada sore hari ini. Sesuai penanggalan jawa selisih satu hari dengan kalender reguler.

“Kata sesepuh, pas Kamis sore, hari Jumat pon itu sudah masuk jadi kami majukan pelaksanaannya,” jelas Supariyanto, salah satu tokoh nelayan Grajagan disela-sela ritual pelarungan.

Warga memilih untuk menuruti permintaan Supiah. Sebab hal itu dilakukan semata-mata hanya untuk antispasi hal yang tidak diinginkan seperti datangnya marabahaya. Terlebih nelayan Grajagan memilik pengalaman pahit, bencana Tsnumani.

Sebelumnya sesaat setelah ditemukan duduk mengapung di laut Pelawangan, SUpiah mengingatkan agar warga menggelar selamatan jenang/bubur grendul.Saat itu Supiah tidak menyampaikan alasannya kenapa waktunya harus Jumat Pon.

Acara diikuti oleh ratusan warga Desa Grajagan yang berasal dari Dua Dusun, yakni, Dusun Grajagan Pantai dan Dusun Kampung Baru. Mereka masing-masing datang ke pesisir dengan membawa makanan sesuai permintaan Supiah.

Pantai Klampok, pantai yang paling dekat dengan laut Pelawangan dipilih sebagai tempat dilakukannya acara. Sebelum dilakukan pelarungan, sesepuh setempat yang memimpin ritual memberikan petuah serta doa bersama bagi keselamatan seluruh Desa.

“Kita tetap panjatkan puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, karena kita diberi peringatan melalui Mbah Supiah. Kita niati saja ini sebagai Shodaqoh,” jelas Syueb Akbar, sesepuh Grajagan kala memberikan petuah dihadapan ratusan warga.

Jenang/bubur grendul yang disudah diberikan doa, satu persatu oleh warga dilarung kelaut. Sekejap makanan yang ditaruh dalam wadah yang terbuat dari daun pisang itu hanyut terbawa arus menuju ke Pelawangan. Sebagian lagi oleh warga dibagi-bagi untuk disantap beramai-ramai.

Seusai melakuan larung sesaji kelaut, warga berharap di kampung tidak terjadi hal-hal yang aneh lagi. Meski malam sebelum dilakukannya ritual, terjadi teror 2 bola api yang terbang melintasi desa mereka. “Semoga Desa kami aman, dan kami tidak was-was lagi. Semoga bola api itu kejadian yang terakhir kalinya,” harap Supariyanto. (gik/gik)

-0O0-

Photo Ritual Sesuai Pesan Supiah

Warga Grajagan, Banyuwangi, memenuhi permintaan nenek ‘sakti’ Supiah untuk melakukan selamatan bubur grendul,Kamis (14/5). Bubur grendul dilarung tepat pada penanggalan jawa Jumat Pon.

Fotografer – Pool

GB
-0O0-
GB
-0O0-
GB
-0O0-
GB

-0O0-

GB
-0O0-
Kamis, 14/05/2009 14:10 WIB

2. Kampung Penemu Supiah Diteror Bola Api dari Laut Selatan

Irul Hamdani – detikSurabaya

Pesisir Grajagan

Banyuwangi – Peristiwa aneh mulai meneror warga Dusun Kampung Baru Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi pasca ditemukannya Supiah duduk di tengah laut Pelawangan. Kampung tersebut adalah tempat tinggal para nelayan yang menemukan Supiah di laut.

Rabu malam (13/5/2009), warga setempat digegerkan dengan terbangnya dua bola api yang melintas di atas pemukiman. Warga menduga bola api itu ada kaitannya dengan fenomena nenek ‘sakti’ Supiah yang tinggal di Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo.

Beberapa sakti mata menyebutkan, jika bola api pertama muncul dari arah laut selatan, sekitar lokasi di temukannya Supiah duduk mengambang di atas laut. Bola api pertama itu terbang menuju ke arah pemukiman nelayan.

Diwaktu yang nyaris bersamaan muncul bola api kedua dari arah barat. Anehnya, kedua bola api yang sedang terbang itu pecah berantakan saat melintas di atas masjid setempat.

“Bola api itu keluar dari laut selatan mas, satu dari arah Barat. Pecah berantakan pas di atas masjid,” jelas salah satu saksi mata, Yanto yang dihubungi detiksurabaya.com, Kamis (14/5/2009) siang.

Beragam spekulasi pun mengalir. Salah satunya, Yanto mengkaitkan dengan peringatan dari Supiah yang meminta warga untuk menggelar selamatan bubur grendul pada Jumat pon.

“Ini pasti jawaban dari permintaan nenek Supiah untuk selamatan bubur grendul,” kata Dua Yamani, nelayan Grajagan lainnya. Menurut Yanto, warga desa malam ini yang jatuh pada Jumat pon akan menyelenggarakan hajatan untuk menolak bala seperti yang diminta Supiah. (gik/gik)

-0O0-

Kamis, 14/05/2009 11:09 WIB

3. Tingkah Supiah Makin Menakutkan

Irul HamdanidetikSurabaya

Supiah setelah ditemukan di laut

Banyuwangi – Tingkah Supiah semakin aneh saja. Nenek yang dipergoki duduk mengapung di laut Pelawangan, Grajagan, Banyuwangi, sepekan lalu itu, kini meminta sejumlah perlengkapan dapur tradisional kuno yang biasanya dipakai masyarakat pedesaan di Jawa.

Perlengkapan dapur yang dimintanya yakni, kendi, wajan, entong dan kendil. Kecuali entong, kesemua perlengkapan yang dimintanya itu harus terbuat dari tanah. Bahkan entong yang dipesannya tersebut harus terbuat dari kayu berwarna hitam.

Lebih anehnya lagi, perlengkapan itu akan dibelinya dengan cara barter. Namun jangan sangka jika Supiah akan membarter dengan barang berharga setara dengan barang yang dimintanya. Nenek berusia lebih dari setengah abad tersebut menawarkan barter perlengkapan dapur dengan anjing.�

Aku tuku kendi, kendil, wajan karo entong, kabeh teko lemah, entonge kayu, siji-siji. Tak bayar karo asu yo, (Aku beli kendi, kendil, wajan sama entong, semua dari tanah, entongnya kayu, satu-satu. Saya bayar dengan anjing ya-Red),” pinta Supiah kala ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Kamis (14/5/2009).

Saat ditolak barter anehnya itu, Supiah justru akan membayar dengan manusia. “Nek gak gelem yo tak ganti bayar karo menungso, gelem?( Kalau tidak mau ya saya ganti dengan manusia, mau?-red),” kata Supiah lagi.

Kala ditanya akan dipakai untuk apa, Supiah menjawab akan memakai perlengkapan itu sesuai dengan fungsinya. Namun cara barternya tersebut mengundang ketakutan dari pihak keluarganya. Sebab, Supiah meski dianggap para tetangganya� stres namun tak pernah ngelantur sejauh itu saat berbicara.

“Kok lama-lama tambah aneh saja dia itu, mudahan tidak ada maksud apapun dari bicara ngelanturnya itu,” kata Saudah (32), adik kandung SUpiah dengan nada penuh kekhawatiran. (gik/gik)

-0O0-

Selasa, 12/05/2009 08:19 WIB

4. Supiah Ngotot Ingin Cari Dua Manusia Ular

Irul HamdanidetikSurabaya

Banyuwangi – Supiah (65), nenek ‘sakti’ yang ditemukan duduk mengapung di laut Pelawangan, Grajagan, Banyuwangi, oleh nelayan setempat, masih ngotot mencari dua manusia berbadan ular, yang disebut sebagai anaknya.

Tak masuk di akal, namun itulah yang menjadi keyakinan dari seorang Supiah. Nenek ‘sakti’ asal Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi itu bersikeras ingin menemui anak yang menurutnya berada di tengah laut selatan.

Jika dibantah, si nenek aneh itu buru-buru balik menyergah. Seraya menyakinkan jika dirinya memang memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan, berkepala manusia berbadan ular.

Sayang, si nenek belum mau banyak cerita apa sebenarnya manusia berbadan ular yang dimaksudnya tersebut. Jika dipaksa, maka matanya akan melotot ke arah lawan bicaranya.

“Aku iki duwe anak nek segoro kidul, awake ulo, mboh wes nek gak percoyo, (Aku ini punya anak di laut selatan, badannya ular, terserah sudah kalau gak percaya),” jawab Supiah kepada Saudah adik bungsunya yang mempertanyakan, Selasa (12/5/2009) pagi.

Sebab itu pula, si nenek misterius itu sering berujar akan kembali ke laut selatan. Rencana itu terlontar dari mulutnya saat berada di kamarnya. “Kapan-kapan aku ke laut selatan lagi ya,” terdengar jelas suara Supiah dari bilik kamarnya, seakan berjanji pada seseorang.

Misteri siapa manusia berbadan ular hingga kini belum terjawab. Siapa sebenarnya kedua makhluk misterius tersebut hingga membuat Supiah ingin menemuinya. Benarkah anak Supiah? Entahlah! Namun yang jelas Supiah memang memiliki dua putri, Dewi dan Solikhah. Keduanya sudah 7 tahun tak bertemu karena sang anak berada di Maluku dan Papua.

Saat beberapa paranormal Banyuwangi mencoba menggunakan mata batinnya untuk mendeteksi si manusia berbadan ular, mereka tak menemui hasil. Paranormal hanya geleng-geleng kepala dan angkat tangan seakan menyerah.

“Tidak tembus mas, tapi yang jelas nenek Supiah dan manusia ular itu ada kaitannya dengan penghuni alas purwo,” terang Suratno saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Dusun Petahunan Desa Jajag, Kecamatan Gambiran.(gik/bdh)

—– 0O0—–

Baca juga Artikel di Detik Surabaya :

tA$s% Éb>u‘ !$oÿÏ3 ‘ÏZoK÷ƒuqøîr& £`uZÎiƒy—_{ öNßgs9 ’Îû ÇÚö‘F{$# öNåk¨]tƒÈqøî_{ur tûüÏèuHødr& ÇÌÒÈ

One Comment

  1. masih ada aja ya orang sakti di jaman yang udah modern gini……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: