Skip navigation

Saksi Kunci Ledakan Hotel JW Marriott dan Dugaan Tersangka Pelaku Pengeboman

Sumber artikel : http://resiandriani.com

K

epolisian saat ini masih menjaga dua korban ledakan yang dirawat di Rumah Sakit Jakarta, yang juga disebut-sebut sebagai saksi kunci dalam peristiwa bom di Hotel JW Marriott, Jumat (17/7) pagi.
Salah seorang aparat dari Kepolisian Sektor Setiabudi, yang tak mau diungkap namanya, kepada Kompas.com mengakui bahwa dua saksi kunci itu masih dalam perawatan. “Iya benar. Ada dua, D dan A,” ungkapnya.

D adalah petugas keamanan Hotel JW Marriott dan A bekerja di bagian banquet Restoran Sailendra.

Ia pun tidak mengelak bahwa ada penjagaan khusus bagi kedua saksi kunci ini. Penjagaan dilakukan 24 jam secara bergiliran. “Tadi dari Polsek Setia Budi dan Polres Jakarta Selatan. Malam ini dari Polda. Ada bagian serse, buser, dan lainnya,” tutur Istiyantoro.
Berdasarkan pantauan, sejak siang tadi, ada mobil polisi yang standby di depan Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Jakarta, di mana sebagian korban ledakan bom dirawat. Sekitar jam 18.00 ada mobil minibus milik polisi yang meninggalkan RS Jakarta. “Itu baru tukaran jaga,” kata aparat tersebut yang ditemui seusai berjaga.
Masih menurut penuturan polisi tersebut, kedua korban sekarang dalam keadaan baik. D sudah bisa dimintai keterangan, tetapi A masih sulit karena gendang telinganya pecah dan ada luka dalam.
Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa kehadiran polisi di rumah sakit tersebut tidak hanya menjaga para saksi kunci secara ketat dan meminta keterangan, tetapi juga mengidentifikasi para korban melalui sidik jari masing-masing. “Sampai saat ini penjagaan masih terus berlangsung,” tandasnya.

  • Saksi Kunci: Pelaku Menyeret Tas Hitam

M

enurut keterangan dua orang saksi kunci di Hotel JW Marriott, pelaku peledakan sempat mondar-mandir dan menyeret sebuah tas hitam sebelum akhirnya bom yang dibawanya meledak di restoran hotel mewah tersebut.
Infomasi yang diperoleh Kompas.com dari seorang aparat kepolisian yang menjaga dua saksi kunci tersebut di Rumah Sakit Jakarta, Jumat (17/7), saksi berinisial A mengaku melihat pelaku pengeboman masuk ke restoran di mana ia bekerja di bagian banquet. Pelaku tampak mondar-mandir sambil menyeret tas hitam. Gerakannya mencurigakan sehingga saksi terus mengamatinya.

“Mau menegur tapi bukan keamanan. Eh malam meledak,” tutur aparat tersebut.
Kompas.com sendiri sempat menjenguk A di ruang tempat ia dirawat. Tampak suasana kamar dipenuhi anggota keluarga korban. Saksi sendiri walau tidak bisa mendengar berupaya mengarahkan matanya ke televisi yang menayangkan rekaman CCTV, di mana tampak seseorang yang diduga pelaku pengeboman membawa tas hitam yang diseret.

Sementara itu, saksi kunci lainnya berinisial D, yang bertugas sebagai petugas keamanan di JW Marriott, pada saat kejadian tengah berada di pintu masuk di lobi bawah hotel mewah tersebut.  Saksi sempat melihat seseorang membawa tas hitam dari dalam hotel. Pelaku menyeret tas hitam melewati lobi hotel menuju restoran.  Saksi heran kenapa ada orang membawa koper kok menuju restoran.
“Ia (saksi) juga tidak melihat ada satpam lain menegurnya. Sesaat kemudian bom meledak,” kata aparat tersebut.]

  • Satpam Sempat Sapa Pengebom Bunuh Diri

S

alah seorang satpam yang juga menjadi korban bom JW Marriott, Dikdik Ahmad Taufik, mengaku sempat menegur seorang pria yang diduga kuat sebagai pengebom bunuh diri.

Saat ditemui di Rumah Sakit Jakarta, Dikdik yang menjabat supervisor security di Marriott menuturkan, pada Jumat (17/7) pagi, dirinya sempat bertemu dengan seorang pria bertopi yang membawa tas dan menyeret koper.

“Saya sempat lihat, sempat ketemu. Saya tegur orang itu sekitar pukul 7.00 pagi lebih lah. Saya sapa dia, ‘pagi pak, bisa dibantu’, ” tutur Dikdik, ketika ditemui di RS Jakarta, Sabtu ( 18/7 ). Menurut Dikdik, pria tersebut sempat menjawab, “Ya saya mau ketemu bos saya”. Dikdik kemudian menimpali pertanyaan, “Yang mana, siapa?”. Pertanyaan tersebut kembali dijawab oleh pelaku. “Ini, saya mau kasih pesanan”.

Berdasarkan penuturan Dikdik, pria itu membawa koper dan tas. Dengan ciri-ciri, warga negara Indonesia, kulit berwarna sawo matang, muka bersih tanpa jenggot, tinggi sekitar 172 cm, dan usia sekitar 25 atau 28 tahun.

“Tingginya sekitar saya lah. Saya tidak ada feeling sama sekali, tidak ada firasat karena sudah di dalam. Karena kan pelakunya sudah di dalam dan sudah melewati metal detector,” ujarnya.

Setelah bertemu dengan pelaku, lanjut Dikdik, dirinya langsung berbalik menuju lobi. Tidak lama berselang, terdengar bom meledak. “Kira-kira satu menit, langsung duarr,” ceritanya.

Akibat kejadian tersebut, Dikdik terpaksa dirawat di kamar 359 RS Jakarta karena menderita luka bakar di bawah telinga kanan, dan excoriasi kaki, muka, dan tangan.

  • Pelaku Bom Pakai Modus Baru

P

ihak kepolisian menyatakan, aksi pengeboman di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott memakai modus baru. Itu terlihat dengan cara pelaku memasuki sasaran dan material bom yang dipakai. Hal ini disampaikan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Nanan Sukarna dalam jumpa pers di Mal Bellagio, Jakarta, Jumat (17/7).

Menurutnya, dengan penjagaan superketat dari pihak keamanan, seharusnya setiap bahan peledak dipastikan tidak bisa masuk ke area hotel.  Indikasi lain, ditemukan sebuah bom yang masih aktif yang dimasukkan ke dalam tas laptop di kamar 1808 Hotel JW Marriott.

“Mereka punya modus baru. Kemungkinan mereka pereteli dulu (komponen bom) di luar, baru dirakitnya di dalam hotel,” ujar Nanan.

Selain itu, kemungkinan modus lain yang bisa digunakan agar pelaku bisa memasukkan bom ke dalam hotel adalah dengan menelan komponen bom tersebut, sebelum masuk ke hotel. “Mungkin saja bahan bom itu ditelan sebelumnya,” ungkapnya.

Nanan menambahkan, dari barang bukti bom yang belum sempat meledak, diketahui jenis rangkaian bom masih seperti pelaku teror yang lama. “Rangkaian bom masih sama seperti dulu. Di situ ada mur, kalau dulu kan gotri. Cara merangkainya juga masih seperti dulu,” ungkapnya.

Namun, hingga saat ini pihak kepolisian belum bisa menyimpulkan tentang motif dan dalang di balik kasus peledakan ini. Untuk sementara, pihak kepolisian mengambil beberapa rekaman CCTV yang ada di sekitar kamar 1808 sebagai barang bukti. Kepolisian berharap rekaman tersebut bisa membantu dalam mengungkap kasus ini.
“Saya mendapat informasinya sih di lorong dekat kamar 1808 ada CCTV-nya. Kan berarti kelihatan (pelakunya),” ungkapnya.

Kepolisian meminta semua pihak tidak berandai-andai terkait motif dan pelaku pengeboman tersebut. Kepolisian menyatakan tidak akan merahasiakan jika memang sudah diketahui motif dan pelakunya. “Jangan berandai-andai. Kita menyimpulkan berdasarkan fakta di TKP. Sekarang beberapa tim sedang bekerja. Kita tunggu saja,” imbuhnya. (CR-2)

  • Noordin M Top Diduga Terkait Bom Mega Kuningan

K

epala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Ansyaad Mbai menyatakan, Noordin M Top terkait pemboman di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton di Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (18/7) pagi.

“Dari modus yang dilancarkan, ini jelas terkait Noordin M Top,” katanya, ketika dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Inspektur Jenderal Polisi Ansyaad Mbai menambahkan, meski modus yang digunakan masih konvensional, yakni bom bunuh diri, aksi ini dilakukan dengan cara yang lebih canggih, yakni langsung menyusup ke dalam sasaran.
“Sebelumnya kan bom bunuh diri hanya dilakukan di luar, di halaman hotel atau apa. Namun ini, di tengah sistem pengamanan yang sudah begitu ketat, mereka bisa menembus hingga ke target sasaran utama,” kata Ansyaad.
Ia mengemukakan, meski dalam empat tahun terakhir aksi terorisme tidak terjadi di Indonesia, Noordin M Top beserta sel-sel jaringannya terus aktif melakukan “konsolidasi” meski dalam kurun waktu tersebut aparat juga kerap menyisir dan menangkap para kaki tangan Noordin M Top.
“Kejadian ini merupakan bukti kalau mereka masih kuat dan ini yang harus menjadi prioritas, yakni menangkap si aktor, yaitu Noordin M Top. Selama aktornya belum ditangkap, ya segala upaya antisipasi seperti apa pun akan sia-sia,” tuturnya.

Dalam beberapa waktu terakhir, aparat sudah melakukan penyisiran dan penangkapan di beberapa daerah yang diduga sebagai tempat persembunyian dan aktivitas Noordin M Top dan kaki tangannya, seperti Cilacap (Jawa Tengah), Lampung, dan Malang (Jawa Timur).
Salah satu yang tertangkap adalah Syaefudin Zuhri, yang ditangkap di Cilacap, Juni 2009. Berdasar penuturan alumnus sebuah pelatihan di kamp di Afganistan pada 1990, Noordin M Top masih memiliki pengaruh dan jaringan yang kuat di Indonesia.
Tak hanya itu. Menurut teman satu angkatan Ali Imran itu, Noordin M Top masih sangat dilindungi oleh sesama anggota Jamaah Islamiyah (JI) sehingga aparat masih sulit untuk menemukan jejak secara pasti buronan nomor satu itu.

By: Kompas

One Comment

  1. Ya jelas itu, Noordin M. Top sbg pelaku…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: