Skip navigation

Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika la syariika laka labbaik, Innal hamda, Wanni’mata, Laka walmulka, laa syarii ka lak.

aku datang ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku datang, dan Kau tidak memiliki tandingan, dan aku penuhi panggilan-Mu, Segala puji dan segala nikmat adalah milik-Mu. dan juga segala kekuasaan adalah milik-Mu. Kau tidak memiliki tandingan.

Kami sampaikan permohonan maaf atas segala dosa dan khilaf. Semoga Allah memberikan ridho dan ampunan-NYA kepada kita semua.

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
(QS. 2. Al Baqarah – ayat 128)

-0O0-

USAHA DAN UPAYA MERAIH HAJI MABRUR

Oleh : Buya H Mas’oed Abidin
Sumber : http://masoedabidin.wordpress.com

I

badah haji adalah rukun Islam Kelima, sesudah syahadat, shalat, shiyam dan zakat. Bagi seorang muslim, melaksanakan haji adalah dalam rangka beribadah dan memenuhi perintah Allah SWT. Yaitu sebagai konsekwensi logis dari ikrar (syahadat) yang telah diucapkannya.

Dari sudut pandang seperti ini, dapat kita katakan bahwa haji adalah puncak atau klimaks dari kesaksian dan penyereahan diri seorang muslim secara total kepada Allah SWT, yang telah menciptakannya dan seluruh alam semesta ini. Belumlah dianggap lengkap dan sempurna ke-Islaman seseorang yang telah memiliki kemampuan (istitho’ah) bila dia belum menunaikan ibadah haji.

Agaknya perlu dipahami bahwa pada akhirnya haji adalah merupakan sarana untuk mencapai tujuan dan sasaran yang lebih mulia dan tinggi yaitu sikap taqwa kepada Allah yang terefleksi dalam bentuk cara / pola berfikir, bertindak dan berbuat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Al-Qur’an semua ayat-ayat yang berkaitan dengan haji, selalu diakhiri oleh Allah dengan pesan untuk bertaqwa.

Barangkali bentuk haji yang seperti inilah yang disebut sebagai Haji Mabrur yang menjadi idaman bagi setiap calon jemaah haji, yaitu haji yang mampu mendorong terjadinya perobahan orientasi, visi dan misi kearah peningkatan amal saleh, baik ritual maupun sosial, dalam rangka menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih sesuai dengan ajaran Islam, guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, haji mempunyai sifat dan karakteristik tersendiri, terutama jika dikaitkan dengan masalah waktu dan tempat pelaksanaan.

memakai baju ikhram

Dalam Islam ibadah-ibadah formal (mahdhah) ada tiga macam :

1. Waktu pelaksanaannya ditentukan tetapi tempat pelaksanaannya tidak ditentukan.
2. Tempat pelaksanaannya ditentuka tetapi kapan saja boleh dikerjakan.
3. Waktu dan tempat pelaksanaannya diatur dan ditetapkan oleh Allah SWT.

H

aji adalah masuk dalam ibadah katagori yang ketiga ini.
Karena Faktor-faktor inilah barangkali menunaikan haji diwajibkan Allah kepada kaum Muslimin yang mampu hanya satu kali dalam seumur hidup.

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dan Nasa’i dari sahabat Abu Hurairah diterangkan bahwa ketika Nabi menyampaikan bahwa Allah telah mewajibkan kepada kaum muslimin melaksanakan ibadah haji, lalu ada yang bertanya; apakah kewajiban berhaji itu setiap tahun ya Rasulullah?

Nabi diam saja dan tidak menjawab pertanyaan ini, bahkan sampai tiga kali masalah ini ditanyakan, kemudian Nabi baru menjawab: Kalau saya jawab ya, saya khawatir haji ini difardhukan Allah kepadamu setiap tahun, dan kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya.

Jadi karena haji ini waktunya ditentukan dan ia juga harus dilakukan di tempat (lokasi) yang tertentu pula yaitu Makkah Saudi Arabia, maka faktor kemampuan (istitha’ah) menjadi syarat utama pelaksanaan ibadah haji.

melakukan Tawaf

Seringkali orang beranggapan bahwa istitha’ah atau kemampuan itu hanya diartikan dari segi kemampuan finansial saja.
Padahal konsep istitha’ah itu sebenarnya berkaitan pula dengan kesehatan fisik, mental, ekonomi, keamanan, pemahaman ilmu-ilmu manasik dan bahkan kesmpatan untuk menunaikannya.

Unsur ibadahnya yang lebih merupakan sasaran utamanya.

Diperlukan bimbingan dan pembinaan yang berkesinambungan: sebelum melaksanakan ibadah haji, selama dalam pelaksanaan ibadah haji dan masa paska haji yaitu setelah kita kembali ke tanah air.

Persiapan persiapan awal

S

etiap orang yang melakukan haji akan selalu mendambakan haji mabrur.
Hal ini adalah wajar saja, karena dalam sebuah hadits, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah SAW, bersabda :
“Satu umrah yang lainnya menghapus dosa diantara keduanya, sedangkan haji mabrur balasannya tidak lain adalah surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang perlu diperhatikan ialah menjalankan atau mengamalkan rukun-rukun Islam yang lainnya dengan baik dan benar.

Harus berusaha untuk merealisir persyaratan-persyaratan
a. Niat untuk menunaikan ibadah haji dan dari segi persyaratan telah memenuhi, hendaklah segera melaksanakannya, jangan sampai ditunda-tunda lagi.
b. Menjadikan ibadah haji ini sebagai salah satu perjalanan rohani yang menyenangkan, penuh dengan pengalaman spiritual yang berharga, serta terhindar dari segala kesulitan dan kesusahan.

melakukan Sa’i

Persiapan rohani

D

alam hal ini yang diperlukan adalah mempersiapkan kondisi batin dan rohani kita sedemikian rupa, sehingga ia semaksimal mungkin telah bersih dari cacat dan dosa.

Tujuannya adalah agar kita bisa berangkat dalam keadaan sebersih dan sesuci mungkin, terlepas dari segala beban yang memberatkan batin dan pikiran kita.

Agar perjalanan rohani ini bisa berlangsung dengan baik dan lancar, dalam rangka usaha kita meraih haji yang mabrur itu, maka langkah-langkah berikut yang perlu dilakukan yaitu :

1. Membetulkan dan meluruskan niat

M

enunaikan ibadah haji merupakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya yang mampu. Karena itu perlu sekali untuk membetulkan dan meluruskan nawaitu terlebih dahulu, yaitu dengan memasang niat yang ikhlas untuk pergi haji. Mari kita niatkan bahwa kita pergi menunaikan ibadah haji ini hanya karena melaksanakan perintah Allah SWT dan hanya untuk mengharapkan ridha-Nya semata.

Dan bahwa kepergian kita ketanah suci bukanlah karena alasan-alasan lainnya. Marilah menghindarkan diri dari perasaan ria, ingin dipuji, merasa hebat sendiri, takabur, sombong serta sifat-sifat lainnya.

Mari kita berserah diri kepada Allah dan kita lakukan semuanya itu dengan ikhlas. Sabda Rasulullah SAW :
“Barang siapa yang mengerjakan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah dan tidak berbuat rafats serta tidak fasik, maka kembalilah ia seperti dilahirkan oleh ibunya.”

(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Yang dimaksud dengan rafats ialah bersetubuh, bercumbu, berkata-kata yang menimbulkan birahi serta yang keji dan kotor.
Sedangkan fasik adalah melakukan kejahatan dan maksiat.

melakukan Tahalul

2. Melatih bersifat sabar dan tolong menolong

S

ifat sabar amat diperlukan dalam melaksanakan ibadah haji.
Sifat ini bahkan sudah mulai diuji begitu kita memutuskan untuk berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji.
Semua urusan memerlukan sifat sabar, baik pada saat pembayaran ONH, pemeriksaan kesehatan, pendaftaran, menunggu panggilan untuk keberangkatan dan lain-lainnya.
Mari kita berusaha untuk mulai melatih bersifat sabar dalam menghadapi semuanya itu.

Di tanah suci sendiri, dengan berkumpulnya jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia, dengan berbagai sifat dan kebiasaannya, sifat sabar lebih diperlukan lagi.
Segala macam hal bisa terjadi di tengah ramainya jamaah itu.
Mulai dari sekedar kena senggol, kena dorong atau bahkan rebutan tempat, baik di Masjid maupun di tempat penginapan.
Bahkan pertengkaran antara suami isteri pun sering terjadi, jika tidak mempunyai sifat sabar dan sanggup mengendalikan diri.

Ujian terhadap kesabaran itu lebih terasa lagi pada saat berpakaian ihram, dimana setiap orang dilarang untuk bermusuhan, mencaci dan bertengkar (yang termasuk perbuatan jidal) sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
“ …..Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fasik dan berbuat jidal di saat mengerjakan haji…” (Al-Baqarah: 197).

mabit di Minah

Selain sifat sabar, sifat tolong menolong juga amat diprlukan di tanah suci.
Anda akan menemui keadaan dimana orang lain sangat membutuhkan pertolongan anda.
Dalam keadaan begitu, jarang ragu-ragu memberikan pertolongan.
Karena dengan pertolongan yang anda berikan untuk orang lain, Allah pun akan menolong anda.
Sudah terbukti bahwa orang-orang yang banyak menolong orang lain dengan ikhlas, segala urusannya akan berjalan dengan lancar, dan dia akan terhindar dari kesulitan.
Yang penting anda menolong itu dengan penuh keikhlasan, tanpa mengharapkan sesuatu, kecuali ridha Allah semata.

3. Berangkat dengan harta yang halal dan baik

M

engerjakan haji adalah salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah.
Sudah tentu dalam melaksanakannya kita di tuntun untuk berada dalam keadaan bersih dan suci.
Begitu juga dengan harta yang akan kita gunakan untuk itu.

Dalam satu haditsnya, Rasulullah Saw. menyatakan: “ Apabila seseorang pergi melaksanakan ibadah haji dengan nafkah yang baik (halal) dan meletakan kakinya di atas kendaraannya, maka ketika dia berseru: Labbaik Allahumma labbaik,ia akan mendapat sambutan dengan seruan dari langit: Diterima panggilanmu dan berbahagialah engkau, karena bekalmu halal dan kendaraan yang engkau pakai halal, dan hajimu diterima, tidak ditolak.”(HR. Thabrani dari Abu Hurairah)

wukuf di Arofah

4. Membersihkan dan mensucikan diri

Y

ang dimaksudkan adalah membersikan dan mensucikan diri secara rohani, yang dapat dilakukan dengan:

~ Bertaubat dan memohon ampun kepada Allah dari segala dosa. Dalam melakukan taubat hendaklah bertekad tidak akan kembali lagi kepada dosa.

~ Mohon maaf kepada orang tua, isteri/suami, anak, anak saudara, famili, tetangga serta para sahabat.

~ Memperbaiki atau meningkatkan mutu shalat. Kalau madsih sering tertinggal atau lalai mengerjakannya, usahanya akan lebih baik.

~ Mengeluarkan zakat, bagiyang belum melakukannya. Karena zakat ini termasuk unsur “pembersih” diri dan harta, sehingga tidak bercampur dengan yang bukan hak kita, dan usahakan sesering mungkin mengeluarkan infak, sadaqah, dan lain-lain sebagainya.

Semua hal di atas perlu dilakukan sebelum berangkat ketanah suci.
Dengan bersihnya diri kita, mudah-mudahan bisa terhindar dari berbagai kesulitan yang mungkin saja itu merupakan peringatan dari Allah Kepada kita.

5. Mempelajari tata cara pelaksanaan ibadah haji

I

badah haji merupakan suatu rangkaian yang terkait oleh waktu dan tempat.
Di antara ibadah itu ada yang merupakan rukun haji, yang kalau ditinggalkan berakibat batal (tidak sah)nya haji.
Juga ada ibadah yang bersifat wajib, yang kalau tidak dilakukan tidak membatalkan haji, tapi ditebus dengan membayar denda atau dam.
Selain itu ada lagi hal-hal yang berdifat sunnat, serta larangan-larangan yang bisa merusak atau membatalkan ibadah haji.

Karena itu mari kita pelajari tata cara pelaksaan haji itu, baik melalui pelajaran manasik haji maupun melalui buku-buku.
Pelajari sebaik-baiknya hal-hal yang wajib, syarat rukun, sunnat dan lain-lainnya yang perlu dilakukan.
Begitu juga hal-hal yang tidak dilakukan serta yang akan merusak atau membatalkan ibadah haji.

Setiap calon haji hendaklah dapat secara cermat menangkap nilai-nilai atau hikmah yang terkandung dalam segala peragaan manasik haji.

Mabit di Musdholifah

6. Mempelajari do’a-do’a dan bacaan ibadah haji

S

ebenarnya dalam melaksanakan ibadah haji, do’a-do’a dan bacaan-bacaan tersebut bisa kita baca dari buku sambil melakukan ibadah.
Namun demikian,kalau kita bisa menghafalkannya tentu lebih baik, sebab akan memperlancar pelaksanaan ibadah, tanpa harus bolak-balik melihat buku.

Selain itu arti dari do’a dan bacaan tersebut perlu juga dipelajari dan dimengerti, agar kita lebih bisa menghayati maksud dan kandungan dari do’a yang dibaca.

Semua do’a dalam pelaksanaan ibadah haji adalah do’a yang bagus, yang intinya untuk memohonkan kebahagiaan dan kesejahteraan kita di dunia dan di akhirat. Seperti do’a safar sebagaimana yang diajarkan nabi kita.

Karena itu, jika do’a-do’a itu bisa dihayati arti dan maksudnya, ibadah kita akan menjadi lebih khusyu’.

7. Mempelajari sejarah perjuangan nabi

S

ewaktu berada di tanah suci umumnya kita berkesempatan untuk berziarah ketempat-tempat bersejarah yang terletak di sekitar kita Makkah dan Madinah.

Dengan mengetahui riwayat dari tempat-tempat bersejarah itu, pada saat berziarah kesan kita mendapat gambaran yang lebih lengkap.
Kita mengetahui peristiwa bersejarah yang terjadi di sana dan kaitannya dengan perjuangan Nabi dan para sahabatnya dalam menegakkan dan mempertahankan agama Islam.

Hal-hal ini kalau dapat kita hayati dengan baik dan betul, akan mempertebal keimanan kita kepada Allah dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

melontar Jumrah

8. Menyelesaikan hutang piutang

S

egala hutang piutang yang akan memberatkan atau mengganggu ketenangan dalam menunaikan ibadah haji, sebaiknya diselesaikan dulu sebelum berangkat.

Atau paling tidak menjelaskan masalahnya kepada keluarga yang ditinggal, agar mereka mengetahui.

Sehingga kalau terjadi apa-apa dengan diri kita, mereka tinggal dapat menyelesaikan hutang piutang itu.

9. Menyiapkan bekal buat yang ditinggalkan

S

elama meninggalkan rumah untuk pergi ke tanah suci, tanggung jawab kita terhadap orang yang ditinggalkan di tanah air tetap harus dipenuhi.
Karena itu kita sebelum berangkat harus meninggalkan bekal untuk mereka, yang jumlahnya mencukupi untuk kehidupan dan keperluan mereka selama kita berada di tanah suci.

10. Mempelajari cara shalat jenazah dan menghafal bacaannya.

P

ada musim haji, baik di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, hampir selalu shalat wajibnya diiringi dengan shalat jenazah. Ini terjadi karena memang banyak jamaah haji yang meninggal dunia di kedua tanah suci itu.

Mungkin karena cuacanya yang sangat panas dan medannya yang berat, bisa juga karena kondisi jamaah yang lemah.
Karena itu bagi yang belum mengetahui tata cara pelaksanaan shalat jenazah atau belum hafal bacaannya, dianjurkan untuk mempelajari serta menghafalkannya sebelum berangkat ketanah suci.
Sehingga pada saat melakukannya di tanah suci bisa dilaksanakan dengan baik dan benar.

menyembelih Dam / Qurban

Persiapan jasmani

M

engenai persiapan jasmani akan diadakan bimbingan khusus kesehatan yang akan diberikan oleh dokter yang ahli.

Secara garis besar untuk persiapan-persiapan fisik ini perlu dilakukan hal-hal berikut:

– Memelihara dan menjaga kondisi kesehatan tubuh sejak dari sekarang.
– Jika perlu melakukan general chek up kesehatan.
– Latihan-latihan senam, disesuaikan dengan dengan kondisi dan usia.
– Latihan berjalan di panas matahari.
– Sering-sering berkonsultasi dengan dokter.

Tawaf Wada’

Seperti dapat dibaca dalam buku manasik haji, ada beberapa cara melaksanakan ibadah haji.

I. Tamattu’ ialah melaksanakan umrah terlebih dahulu di bulan-bulan haji, setelah itu baru mengerjakan haji (Cara ini dikenakan dam nusuk ibadah).

a. Pelaksanaan umrah

1. Bersuci: mandi,berwudlu
2. Berpakaian ihram
3. Shalat sunnat ihram dua rakaat
4. Niat umrah dari miqat
5. Thawaf umrah
6. Sa’I umrah
7. Tahallul

b. Pelaksanaan haji

1. Bersuci; mandi, berwudlu
2. Berpakaian ihram
3. Shalat sunat ihram dua rakaat
4. Niat haji dari pemondokan masing-masing
5. Berangkat menuju arafah (8 Dzulhijjah) dan Mabit di Mina
6. Wukuf di arafah (9 Dzulhijjah)
7. Sehabis ke Muzdalifah, mabit di sana sampai subuh.
8. Melontar Jumrah Aqabah dan Mabit di Mina
9. Thawaf Ifadhah
10. Tahallul

Semoga dapat diraih Haji Mabrur, Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: